28 March, 2009

“Presiden SBY Bohong!” Anak Saya, TV dan Iklan Politik

TV menayangkan iklan politik Partai Demokrat, yang dengan jelas masih dapat saya dan anak saya, bernama Inu dan biasa dipanggil Abang, saksikan ketika kami sedang makan malam, kemarin. Terdengar kutipan suara Presiden SBY, “Insyaallah negara kita bukan hanya akan tetap tegak berdiri, tapi juga semakin maju dan sejahtera..”

Tiba-tiba anak saya berseloroh, “Hahh, Presiden SBY bohong..”
Saya kaget kok bocah lima tahun ini berkomentar seperti itu. Sumpah lho saya kaget. Saya tak pernah mengajarinya [secara langsung]. Memang, dalam banyak hal saya kerap menunjukkan sikap tak bergembira dengan kepemerintahan SBY di rumah [tak dapat dihindarkan pula dihadapan anak dan istri saya], ketika membaca atau menonton siaran berita tentang SBY.

Lalu, saya tanya kenapa? “Masih ada pengamen kok sejahtera,” jawabnya. Sontak saya tertawa. Saya langsung ngeh kenapa dia bisa berkomentar seperti itu. Beberapa hari lalu ia bertanya, “Sejahtera itu apa, Yah?” Pasti dia mendengar kata “sejahtera” ini dari iklan politik itu juga. Seperti biasa, dihadapkan oleh pertanyaan tentang kata-kata abstrak dari anak seusianya, saya selalu kesulitan untuk mulai menjawabnya. Sama seperti saat dia pernah bertanya, masyarakat, agama, negara, itu apa. Itu bukannya sekadar kata-kata biasa melainkan konsep-konsep sosial, yang saya sendiri belum merasa selesai mempelajarinya. Pada akhirnya, saya juga menjawab: Sejahtera itu tidak miskin. Orang yang sejahtera, bisa sekolah, punya rumah tempat tinggal, bisa belanja. Kalau pengamen, pengemis, itu berarti orang yang belum sejahtera.

Sementara itu, hampir setiap hari ada saja pengamen menyambangi kediaman kami, di bagian Timur Kota Semarang ini. Biasanya, anak saya itulah yang saya suruh memberikan uang kepada pengamen yang mampir. Mendengar penjelasan saya tentang “sejahtera” dan melihat realitas masih adanya pengamen, anak saya menyimpulkan kita belum sejahtera. Maka, karena itulah dia menyebut Presiden SBY bohong.

Saya yang hari-hari ini sedang tidak berbahagia karena berita-berita tentang bualan kampanye, termasuk tentu saja yang paling jor-joran berkampanye, incumbent Presiden SBY dan Partai Demokrat, jadi agak terhibur karena komentar anak saya itu. Anak kecil saja bilang, Presiden SBY bohong. Lalu apakah orang dewasa yang punya hak pilih, dengan begitu saja akan mencotreng SBY atau Partai Demokrat? Tentu itu berpulang kepada Anda, yang hak-hak politiknya, memilih dan dipilih, dilindungi undang-undang. Yang jelas, anak kecil saja bisa mengkritik sebuah iklan politik. Hendaknya, seorang pemilih yang dewasa, dapat menimbang-kritik apa yang mungkin akan dipilihnya atau tidak.

Tidak sekadar terhibur. Sebagai orang tuanya, saya senang karena daya ingat anak saya tentang penjelasan suatu hal dan kemampuan analitiknya mulai tumbuh baik. Lebih dari itu, ya seperti komentarnya terhadap iklan Demokrat itu, ia tak segan langsung memprotes bila sesuatu bertentangan dengan yang dipikirkannya. Untuk sikapnya ini, terkadang, saya kewalahan karena ia sering membawa watak temperamentalnya untuk membela diri dan keyakinannya.

Akan tetapi, saya juga merasa was-was. Anak saya sudah sangat dengan mudahnya menangkap apa yang dikoarkan televisi, sekalipun sambil lalu saja. Mungkin, ini kekhawatiran umumnya orang tua. Tapi, saya mulai keteteran untuk terus mengontrol anak saya yang mulai akrab dengan program-program di TV. Meski sejauh ini yang ia tonton sebatas pada program-program anak, tapi acara seperti itu ternyata sangat banyak, sekian jam pagi hari dan sekian jam siang ke sore hari, bahkan ada yang tayang malam hari.

Melarangnya dengan keras itu bukan pilihan yang tepat dan sebenarnya juga hampir tidak mungkin selama kotak ajaib itu ada di dalam rumah. Membiarkan begitu saja, saya khawatir alam pikiran anak saya dibentuk oleh media, yang sebenarnya tidak selalu bermanfaat. Dalam cultural studies, yang sedang saya pelajari, terdapat konsep pemirsa aktif, yang menjelaskan bahwa pemirsa tidak selamanya terhegemoni oleh apa yang disampaikan TV. Pemirsa, menurut konsep ini, juga dianggap sebagai kreator dinamis dan pencipta makna baru, makna lain dari apa yang dimaksudkan oleh televisi. Tapi, untuk anak seusianya, oh.. tidak. Ia tetap membutuhkan intervensi sosial dari seorang agen sosial, salah satunya ayahnya. Tapi, masalahnya, seorang agen sosial pun, masih menurut pemahaman cultural studies, berbicara dalam “cara-cara"” yang sudah teregulasi [regulated way of speaking], meskipun ini dianggap tidak mendeterminasinya.

Di luar semua itu, ada kecemasan yang lain. Saya was-was terhadap diri saya sendiri. Dengan kecenderungan anak saya yang seperti itu, saya mesti bersiap-siap diprotesnya bila tidak segera menuntaskan studi saya tentang apa itu “sejahtera”, “masyarakat”, “negara”, dst. Dan lebih membahayakan lagi, kalau saya tidak segera menyelesaikan studi tentang itu, saya terancam tidak dapat menjamin kesejahteraannya dengan baik. Kecenderungan ini sudah mulai. Dalam banyak hal, dia mulai sering mendebat saya. Lebih-lebih apa bila saya pernah menjelaskan suatu hal, tapi dalam waktu lain saya melakukan sesuatu yang dilihatnya bertentangan dengan penjelasan saya itu.

Presiden saja disemprotnya, apa lagi saya.

2 comments:

I.A. said...

haha... calon aktivis sudah lahir. sok sok kritis arek iku :) salam buat inu, bas.

Nila Riwut said...

Buah jatuh tak jauh dari pohonnya.Inu dan sang ayah tak jauh berbeda. Kapan Inu akan diajak tengok mina ?. Dia calon pemimpin masa depan. Demikian harapan mina.