11 August, 2010

Ketika Ramadhan Tanpa Listrik

Ada satu suasana yang hilang dalam pengalaman saya menikmati bulan Puasa Ramadhan sejak enam belas tahun lalu: sahur tanpa listrik. Ya, sahur tanpa listrik alias hanya diterangi beberapa lampu teplok yang berjelaga.


Di Pangkalan Bun, kota kelahiran dan tempat saya dibesarkan, rumah kami terletak di pinggiran, lebih-lebih untuk ukuran enam belas tahun lalu. Apa lagi tepatnya kalau bukan disebut pinggiran dalam arti yang sebenar-benarnya, sebab meski secara administratif saya sekeluarga tinggal di ibu kota kabupaten, ketika itu kami belum menikmati layanan listrik yang diberikan oleh negara.

Walau begitu, bukannya keluarga kami tak menikmati listrik. Sejak sembilan tahun sebelum PLN tiba, kami menikmati listrik via mesin diesel kecil yang keluarga kami dan tetangga sebelah secara bersama mengusahakannya. Listrik berbahan bakar solar itu kami sharingkan pula ke beberapa rumah tetangga. Kami tetap dapat menikmati terang buah kecemerlangan Edison, kendati dengan gemuruh.

Ya, gemuruh. Gemuruh mesin diesel dari gudang di samping belakang rumah kami.

Tentu saja, kemampuan keluarga kami mengelola listrik tidak sepadan dengan PLN. Listrik hanya kami nyalakan ketika senja menjelang dan dipadamkan sebelum tidur atau pas tengah malam. Kadang-kadang saja listrik tetap menyala hingga dini hari jikalau orang tua saya masih menikmati acara tv atau sedang lembur. Pun, ketika Bulan Ramadhan tiba. Meski sahur mengharuskan kami bangun di dini hari yang pekat, tapi itu tak membuat kami merasa harus menyalakan diesel listrik. Saat listrik dipadamkan sebelum tidur, orang tua saya seperti enggan menghidupkannya kembali ketika bangun sahur. Maklumlah, untuk menyalakan listrik itu dibutuhkan sedikit tenaga: berjalan ke gudang tempat diesel disemayamkan dalam gelap dan menghidupkan mesin dengan cara mengengkol alat starter diesel itu. Hal itu jelas tak nyaman dilakukan oleh orang yang baru terjaga dari tidur yang belum puas.

Ketiadaan listrik membuat pilihan melakukan aktivitas menjadi terbatas. Apa lagi, sehabis makan sahur saat tak ada acara tivi yang bisa ditonton. Godaan untuk langsung tidur kembali menjadi begitu kuat. Tetapi, tidur sebelum sholat subuh adalah sesuatu yang tidak disenangi oleh orang tua saya. Alhasil, menunggu subuh sambil mendengarkan mama atau bapak saya mendongeng atau berkisah tentang masa lalu menjadi sesuatu yang juga istimewa. Ketika subuh datang, kami harus merayap keluar rumah untuk mengambil wudhu dari sumur pompa tangan dengan berbekal cahaya sentar belaka. Jika salah satu dari kami, saya atau adik saya yang sedang memegang sentar sambil memain-mainkannya, sementara yang lain lagi memompa air dan berwudhu, maka lahirlah keributan-keributan kecil. Sebagai anak-anak, saya dan adik-adik juga sering merasa bergidik takut ketika harus keluar dalam kegelapan dan mendengar suara buwak atau burung hantu. Uwwuukkk, uwwuukkk, uwwuukkk... Rasanya, burung hantu itu seperti bertengger di pohon jambu di sebelah kami saja dan seperti siap menerkam.

Mengenang masa itu terkesan berasa manis dan agak romantis. Tetapi, bila masa itu diingat agak serius dengan menyelami kembali suasana riilnya, banyak rasa pahitnya juga. Hal yang tak nyaman adalah jelas bahwa nilai ekonomis penyelenggaraan listrik itu lebih mahal dibanding dengan berlangganan listrik negara. Selain itu, secara teknis, listrik dari tenaga diesel kecil itu sangat mudah mengalami ketidakstabilan voltage. Ketika voltage merosot, para tetangga tak jarang melakukan pengaduan. Tentu saja, kami harus melayaninya dengan baik untuk menyetabilkan voltage lagi karena mereka telah turut iuran agar listrik tetap menyala. Namun, yang saya rasa paling tak nyaman dari masa itu adalah kalau mesin diesel kami rewel. Saya tak tahu spesifikasi teknis kemampuan diesel itu. Rasanya ia sanggup untuk menggerakkan sebuah kelotok. Tetapi, jika dipakai rata-rata tujuh jam saban hari untuk menerangi belasan rumah, bisa dibayangkan beban mesin itu tidaklah ringan. Apa lagi, tak lama setelah dibeli di awal 1986, mesin itu sempat rusak parah akibat serangan badai petir mengerikan yang melanda kawasan tempat tinggal kami waktu itu. Hal yang lebih tak nyaman lagi, mogoknya diesel membuat rasa iri terhadap warga tetangga satu-dua kilo dari tempat kami tinggal yang sudah menikmati layanan PLN, gampang terbersit.

Pada 1994, mungkin umur ekonomis diesel itu sudah hampir tamat. Di masa itu, diesel kami sempat rewel dalam waktu yang lama. Om Iyan, tetangga sebelah, mitra pengelola diesel yang kebetulan seorang montir, hampir-hampir putus asa memperbaiki diesel itu. Di tengah kejengkelannya, tak jarang ia memukul-mukulkan alat starter diesel ke pagar besi mesin. Tang tang tang.. nyaring bunyinya menembus gudang mesin yang berdinding seng itu.

Di tahun yang sama, tiang-tiang beton pertanda PLN akan menerangi kawasan kami telah diletakkan di tepi jalan. Tetapi, di Ramadhan tahun itu, seusai tadarusan di surau yang juga mengharapkan penerangan dari diesel listrik keluarga kami, saya dengan tetangga mengobrolkan mengapa tiang-tiang itu tak segera tertanam dan listrik PLN segera menyala. Lalu kami yang setengah hilang harapan bergunjing-menuduh bahwa RT sebelah telah menyabotase kesempatan kami untuk lebih dahulu menikmati listrik PLN lantaran di sana terdapat unsur pejabat kantor kelurahan.

Beruntung, ternyata itulah tahun terakhir saya menikmati Ramadhan tanpa listrik PLN. Januari 1995 listrik PLN menerangi kawasan tempat kami tinggal. Dan sejak itulah, di sana, di kawasan Jalan Pasanah, salah satu titik perkembangan kota Pangkalan Bun telah tercipta.

Adakah keluarga saya di Pasanah sempat mengenangkan masa itu sebagai momen yang romantis di Ramadhan tahun ini? Ups, mungkin nggak. Jangan-jangan mereka malah tengah ber-dejavu dengan masa itu karena PLN sering melakukan pemadaman bergilir. Apa lagi, seperti yang pernah saya rasakan dua tahun lalu, pemadaman bergilir PLN di Pangkalan Bun bukan sekadar hitungan jam, tapi bisa sampai seharian. Berhadapan dengan situasi seperti masa lalu, sementara ketergantungan terhadap listrik semakin tinggi, jelas bukan sesuatu yang menggembirakan.

No comments: