16 September, 2010

Menjadi Moderator Itu Gak Mudah Lho..

Beberapa kali saya menjadi moderator atau pemandu acara diskusi. Beberapa kali juga saya merasa tidak puas dengan performa saya sebagai pengatur perdebatan.


Ibarat sepak bola, peran moderator bisa dipadankan dengan seorang play maker. Peran inti seorang play maker adalah mengatur ke mana bola harus dialirkan untuk tujuan sebanyak mungkin timnya menguasai bola dan meraih gol-gol kemenangan. Peran inti seorang moderator adalah mengarahkan pembicaraan agar tujuan diskusi tercapai.

Untuk menjadi moderator dan play maker yang baik diperlukan sejumlah persyaratan. Seorang play maker mesti andal dalam menguasai bola dan akurat dalam memberikan passing. Seorang moderator wajib menguasai topik yang dibicarakan dan harus memiliki keterampilan berbicara agar arah pembicaraan sesuai dengan yang diinginkan. Syarat-syarat ini boleh disebut sebagai faktor teknis. Tetapi kadang-kadang faktor nonteknis bisa sangat lebih berpengaruh dibanding faktor teknis sehingga akibatnya moderator atau play maker yang mengusai teknik permainan mumpuni pun bisa tampak buruk.

Saya tidak ingin gede rasa bahwa saya sudah punya kemampuan teknis sebagai moderator yang luar biasa. Kelemahan yang kerap saya rasakan adalah menghela omongan peserta diskusi yang mulai ngelantur. Tetapi, dalam memandu diskusi yang dihelat IKPM Kobar Yogyakarta kemarin, saya merasa faktor non-teknis, faktor di luar syarat kemampuan saya sebagai moderator, amat mengganggu.

Hal-hal yang mengganggu itu: pertama, kurangnya jumlah mikrofon. Dalam diskusi dengan panelis yang banyak, delapan orang dan dalam ruangan yang besar, kelayakan jumlah mikrofon sangat penting. Bisa dibayangkan bagaimana saya bisa efektif memotong omongan-omongan yang tidak perlu jika penggunaan mikrofon dipakai bergantian. Kedua, slide-slide power point yang digunakan sebagai alat bantu para panelis tak teroperasikan dengan lancar. Entah mengapa operator slide power point seperti masih gagap dengan teknologi ini. Ini berimplikasi tersendatnya pemaparan yang disampaikan para panelis. Yang membikin lebih repot respon dari pihak panitia saat kendala itu terjadi begitu lambat.

Di luar dua faktor itu, secara substantif, saya juga merasa tidak berhasil sepenuhnya mengarahkan para panelis untuk mengcover keseluruhan topik pembicaraan. Topik diskusi kemarin adalah “Mempersoalkan Kontribusi Kaum Muda dalam Pembangunan Kobar”. Di awal pembicaraan, saya mencoba menggiring para panelis agar sebelum mereka mempresentasikan gagasannya tentang di manakah dan bagaimanakah peran kaum muda itu dimungkinkan, mereka terlebih dahulu mengklarifikasi problem atau konsep pembangunan Kobar yang telah berlangsung selama ini. Ini penting agar konteks pergerakan kaum muda itu muncul. Faktanya, semua panelis cenderung berbicara nyaris sama, pada level ideal, normatif dan definitif tentang kaum muda. Lontaran tentang pemuda sebagai “harapan bangsa” “agent of change” mengemuka dengan bersemangat. Namun, maping persoalan dan konsep pembangunan Kobar, nyaris absen dari pemaparan. Alhasil, menyaksikan diskusi kemarin, tak jauh beda dengan menyaksikan diskusi para aktivis mahasiswa di berbagai tempat di tanah air, yang hingga hari ini masih seperti terlanda eforia kebebasan, sekaligus gagap memanfaatkannya secara kontekstual.

Untuk persoalan substantif ini, sebagai moderator forum, seharusnya tidak patut saya terlalu merasa bersalah. Pasalnya, sebagian kegagalan itu juga mungkin ditentukan hal lain, seperti komunikasi antara panitia dengan panelis, ketepatan memilih panelis hingga kapasitas panelis. Tetapi, jika Anda tahu bahwa sedikit-banyak saya juga memerankan diri sebagai “moderator” di luar forum, mungkin Anda akan memahami kerisauan ini. Saat proses pemunculan tema ini dan pemenggalannya ke dalam sub-sub tema yang akan diulas para panelis, saya dimintai pendapat oleh panitia. Bahkan, dua hari sebelum acara dihelat, saya kembali diminta memberi masukan konkret via sms tentang subtema-subtema itu. Sebagai contoh, untuk para panelis yang mewakili mahasiswa/pemuda, saya mengirimkan pesan agar mereka mengelaborasi ide-ide tentang peran kaum muda berdasarkan pengamatan kritis meraka atas dinamika masyarakat Kobar saat ini. Saya tidak menengok bagaimana panitia membahasakan itu kepada para panelis. Yang jelas, pengamatan kritis atas “dinamika masyarakat Kobar” itu absen dari uraian mereka saat diskusi berlangsung.

Namun, melihat antusiasme panitia, keseriusan panelis dan respek peserta, saya toh dapat memaklumi berbagai kekurangan itu. Lebih-lebih, acara seperti ini sudah lama tidak diselenggarakan IKPM Kobar Yogyakarta. Ketika turut memberikan pendapat akan tema ini pun, saya tidak berharap muluk. Apa lagi tema seperti ini memang bukanlah enteng. Saya berharap pembicaraan topik-topik ini tidak berhenti di hari kemarin. Bukan saja karena pembahasan kemarin tidak tuntas, tapi tema tersebut sungguh berguna sebagai cermin, apakah kaum muda sungguh-sungguh bisa memberikan kontribusi bagi masyarakat atau sebaliknya, hanya bisa menuntut haknya atau malah menjadi parasit dalam masyarakat

No comments: