27 November, 2013

Mengenal Che Bukan dari Oblong

Moncong senapan serdadu Bolivia itu tak lebih sekilan jaraknya dari dahi lelaki itu. Sekali pelatuk ditarik, pastilah kepalanya tertembus peluru dan ia akan meregang nyawa. Tetapi, lelaki itu buru-buru berkata,” Jangan tembak...aku Che. Aku lebih berharga bagimu, jika aku hidup dari pada mati...”  Itu adalah penggalan cerita detik-detik penangkapan Che Guevara, yang diilustrasikan dengan memikat di awal buku berbentuk komik ini.

Che Guevara, sosok pejuang pemberontak asal Argentina yang telah melegenda, itu memang begitu berharga, hidup atau mati. Pemerintah Bolivia kala itu (1967), menjanjikan lima ribu dollar untuk kepala Che. Tetapi, bukan karena itu, ilustrasi ending cerita perjuangan Che Guevara diletakkan pada bagian awal buku ini. Mungkin itu sekadar intro, betapa proses kematian Che Guevara, hingga kini, masih menjadi sejuta tanya bagi semua—tentu tidak bagi pelaku penembaknya. Atau, memang beginilah pantasnya cara komik berkisah: alur yang paling seru—perang lantas penangkapan—ditampilkan di muka demi memikat pembaca. Yang pasti, setelah itu, kronologi cerita buku ini menjadi berarti, terutama bagi kita yang sekadar tahu tentang Che Guevara dari oblong atau topi a la Che, yang acap dikenakan anak muda masa kini.

Dalam buku ini, Che digambarkan sebagai seorang pemuda gerilyawan yang patriotik dan heroik. Alasan atas apa yang dilakukannya ialah demi satu kata: kebebasan. Kebebasan rakyat dari jerat diktator penguasa dan kemiskinan di Amerika Latin. Ya, penguasa diktator yang datang silih-berganti serta problem kemiskinan memang selalu mewarnai daratan yang menjadi backyard negeri Paman Sam itu. Dalam konteks seperti inilah, sosok Che dalam buku ini kian hidup.

Lebih dari itu, kehidupan dalam keluarga Che juga turut menghidupkan semangat heroismenya. Che terlahir dari keluarga kelas menengah yang bersikap oposan terhadap Peron, diktator populis yang memimpin Argentina masa itu. Dan sang ayah berkata pada Che kecil serta adik-adiknya: “Anak-anak, hidup ini penuh dengan misteri dan bahaya. Hal yang paling penting dari semuanya adalah kebebasan. Jangan pernah menyerahkan itu. Dan untuk mempertahankannya, kalian nanti harus mengorbankan banyak hal. Tapi, jika kalian kehilangan kebebasan maka hidup kalian akan penuh dengan penderitaan...”(hal. 23).

Maka sosok muda Che kian mempesona dengan kegemarannya berkelana di seantero Amerika Latin. Pengelanaan itu menyibak kesadaran hatinya tentang pelbagai persoalan kemanusiaan di benua yang diaku sebagai temuan Colombus itu. Soal kemiskinan, soal ketertindasan. Guatemala, sebuah negeri di Selatan Meksiko adalah negeri di mana kali pertama seorang asing Che, terlibat dalam sebuah gerakan revolusioner menentang penguasa. Sejak itu, namanya kian tenar, hingga membawanya pada perjumpaan yang menyenangkan dengan Fidel Castro, seraya bersiasat untuk membebaskan negeri Kuba dari diktator Batista. Maka, tak ada pilihan lain kecuali memenangkan revolusi!

Barangkali, nama Che Guevara tak terus mengudara apalagi melegenda, jika aksi revolusionernya selalu tertumbuk pada kekalahan. Tapi, bersama Castro, dengan melakukan gerakan revolisioner lewat taktik gerilya dan didukung oleh masyarakat kelas petani Kuba, Che beroleh kemenangan dengan gemilang. Kemenangan, yang sudah tentu, membanggakan dan karena ini ia dianugrahi status sebagai warga negara Kuba. Namun, kemenangan ini sekaligus menghadapkannya pada tantangan baru, bagaimana membawa Kuba keluar dari jerat kemiskinan dan ketertundukan dari negeri asing.

Pasca kemenangan revolusioner Kuba, sebenarnya, merupakan fase menarik di mana kita seharusnya memandang Che Guevara secara kritis dari sisi manapun. Tapi, buku ini menegaskan sosok Che sebagai seorang gerilyawan tulen. Seorang sosok yang patriotik lantaran panggilan moral dan nurani. Tidak lebih. Sebab itu, walau sempat sedikit disinggung, kegagalan konsep ekonomi Che demi mempercepat capaian idustrialisasi di Kuba tak diulas panjang-lebar.

Toh memang, keberadaan Che sebagai seorang gerilyawan yang kemudian juga berhasil men-teorisasikan perihal gerilya itu, layak dihargai tinggi-tinggi. Selain melakukan tur demi menghimpun kekuatan negeri-negeri underdeveloped, selama di Kuba, Che Guevara sukses menelurkan buku The War of  Guerrillas dan sebuah esai, Notes for the Study of Cuban Revolution Ideology. Namun, bagaimana pula kita harus mengkritik kegagalan Che dalam keterlibatannya dengan pemberontakan di Bolivia pada 1967. Satu yang tidak terjawab oleh buku ini, mengapa—berbeda halnya dengan yang terjadi di Kuba—petani-petani di pedalaman Bolivia tak mendukung para gerilyawan, hingga Che kalah dan menutup cerita kepahlawanannya di sana?

Buku ini, sekali lagi, memang menampilkan Che bak hero. Atau, jika boleh saya menyebut analogi lain, yang mungkin setara dengan cara pandang buku ini, Che adalah seorang aktivis pejuang yang berlaku seperti koboi, sebagaimana dibayangkan Soe Hok Gie. Koboi yang datang kala masyarakat butuh bantuan melawan perusuh. Koboi yang kemudian pergi ketika perusuh telah dituntaskan.

Walau begitu, ilustrasi yang memikat dan dengan menggunakan bahasa yang renyah dan agak gaul—karena ini pula mungkin buku ini laris dan telah dicetak tiga edisi sejak cetakan pertama pada Agustus 2003—cukuplah bagi sang pemula untuk mulai mengenali Che. Paling tidak, mereka tak perlu asing dengan sosok yang terpampang pada oblong yang mungkin mereka kenakan.

(Aslinya, tulisan ini dibuat untuk dan telah diterbitkan oleh Buletin Ecorner, Media Antarkampus, pada 2003 di Yogyakarta. Ditampilkan lagi di sini sekadar sebagai pengarsipan. Menyenangkan kalau tetap ada yang membacanya)



No comments: