01 April, 2014

Meningkatkan Produktivitas Sawit Rakyat: Pastikan Asal-Usul Bibit!

KELAPA sawit adalah komoditas yang mendominasi sektor perkebunan di Kalimantan Tengah (Kalteng). Selain digerakkan oleh perkebunan besar swasta (PBS), kini keterlibatan perkebunan rakyat (PR) terus meningkat. Di Kotawaringin Barat (Kobar), salah satu produsen kelapa sawit terbesar di Kalteng saja, BPS (Badan Pusat Statistik) Kobar mencatat terdapat 42.132 hektare (ha) luas kelapa sawit PR.

Meski begitu, produktivitas PR ini tampak tidak sebanding dengan luasnya lahan yang ditanami.
Kembali ke data BPS Kobar, perkebunan kelapa sawit rakyat di Kobar hanya menghasilkan 54.752 ton. Dibanding luas perkebunannya, produksi rata-rata kelapa sawit dari PR hanya lebih sedikit dari angka 1 ton.

Dalam data Kotawaringin Barat Dalam Angka 2013, yang dirilis via www.kobarkab.bps.go.id itu memang tidak dijelaskan secara rinci apakah produksi tersebut terjadi per sekali panen atau total produksi keseluruhan panen per tahun. Bila itu angka total per tahun, tentu nilai produktivitas PR amat kecil. Pasalnya, merujuk www.agrina-online.com, rata-rata nasional produksi kelapa sawit dari PR per hektare per tahun adalah 15,8 ton.

Apa sebab produktivitas kelapa sawit perkebunan rakyat tidak optimal? Kepala Bidang Budi Daya Dinas Perkebunan Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar), Faturrahman, menyatakan persoalan utama adalah masalah bibit. Ia menjelaskan, pemilihan bibit adalah faktor paling krusial.
Faturrahman, Kabid Budidaya Disbun Kobar

Masalahnya, menurut Faturrahman, tidak semua warga memahami bagaimana memperoleh bibit yang unggul. Ia menyatakan, hampir semua bibit bagus. Namun, ia memastikan bibit yang bagus adalah yang asal-usulnya jelas. “Yang punya dokumen. Ada sertifikasi,” jelasnya.

Faturrahman mengatakan bibit yang dipastikan bagus adalah yang berasal dari Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS), baik yang berada di Medan, Palembang atau Batam. Menurutnya, masyarakat bisa memperoleh bibit yang masih berupa kecambah dari PPKS itu dengan terlebih dahulu meminta pengantar dari Dinas Perkebunan.

Faturrahman menuturkan, selama ini masyarakat kebanyakan membeli sawit yang telah berupa pokok (pohon) setinggi hingga 60-an centimeter. Mereka kebanyakan enggan memulai dari awal, pembenihan kecambah kelapa sawit. Sebenarnya, itu tak soal sejauh masyarakat bisa memastikan asal-usul benih dari pokok tesebut.

Problemnya, ungkap Faturrahman, banyak penjual pokok sawit itu tak bisa menunjukkan dokumen asal-usul benih/bibitnya. Pihak swasta memang diperbolehkan menjual pokok kelapa sawit ke masyarakat. “Sebelum disalurkan ke masyarakat harus disertifikasi lagi.” Adalah Balai Perlindungan dan Pengawasan Benih, yang di Kalimantan Tengah berkantor di Palangka Raya pihak yang berwenang mengeluarkan sertifikasi terhadap pokok sawit.

Faturrahman juga menjelaskan, pengadaan bibit kelapa sawit yang jelas asal-usulnya tak murah. Ia menyebut Rp7.500 per biji. Namun, karena komoditas ini dapat menghasilkan dalam waktu yang panjang, ia menyayangkan kalau masyarakat tak memandang penting persoalan bibit ini. “Kita menanam kan untuk jangka 25 tahun. Sayang kalau bibit kurang baik,” ujarnya.

(Aslinya, laporan ini saya tulis untuk dan dimuat Harian Borneonews, 1 April 2014)

No comments: